Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tidak terasa akhirnya kita sudah sampai di bulan April. Bagi teman-teman yang beragama Kristiani, sebentar lagi kita akan merayakan Paskah. Bagi umat Kristiani pada umumnya dan umat Katolik pada khususnya, Paskah adalah hari raya keagamaan terbesar. Inti dari Paskah adalah menceritakan bagaimana Allah sendiri memberi contoh yang nyata pada kita tentang ajarannya yaitu cinta kasih. Bagi umat Kristiani, Ia adalah Allah Yang Maha Kuasa tapi mau solider dengan manusia dan rela menanggung dosa manusia hanya demi cinta-Nya.
Di Gereja Katolik sendiri, rangkaian upacara keagamaan dilakukan menjelang Paskah. Dimulai dengan Minggu Palma, untuk memperingati ketika Yesus masuk ke Yerusalem dan orang menyambutnya bagai Raja. Dilanjutkan dengan Kamis Putih dimana pada malam itu Yesus dikhianati oleh Yudas Iskariot sehingga Ia harus ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Sehari setelah itu yaitu Jumat Agung dimana Yesus disalib dan akhirnya wafat. Sabtu suci untuk memperingati Yesus yang turun ke dunia orang mati untuk mengalahkan maut dan ditutup dengan Minggu Paskah dimana Yesus bangkit kembali.
Bicara soal Paskah, ingatanku teringat sewaktu masih kecil di Sekolah Minggu (nama kebaktian untuk anak-anak di Gereja GKI) sering diadakan acara berburu telur paskah. Telur paskah sendiri adalah telur ayam atau telur bebek yang telah direbus dan diberi berbagai macam warna dan hiasan pada kulitnya. Telur akan disembunyikan kemudian para murid sekolah minggu diajak bermain sambil mencari telur-telur tersebut. Yang menemukannya, boleh menambah hiasan atau melukis kulit telur kemudian dibawa pulang.
Sebenarnya budaya telur paskah berasal dari budaya kaum Indo-Eropa dulu untuk merayakan datangnya musim semi. Waktu itu, mereka belum memeluk agama Kristiani, sehingga tidak heran dari orang Kristiani sendiri banyak yang menentang budaya ini. Mereka beralasan bahwa budaya ini adalah budaya orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Oleh kaum Indo-Eropa, telur paskah digunakan untuk memperingati datangnya Dewa Eostre, yaitu dewa musim semi, yang kemudian namanya diambil untuk menyebut hari Paskah yang juga kebetulan jatuh pada musim semi.
Bagi orang-orang Indo-Eropa dulu, telur paskah melambangkan kelahiran baru. Mereka mengagumi bahwa dari benda yang kelihatannya tidak hidup, muncul kehidupan baru. Terlepas dari baik atau buruknya budaya ini dan terlepas dari banyaknya larangan dari kalangan Kristiani sendiri untuk melanjutkan budaya ini, buat g telur paskah mempunyai arti yang mirip dengan kebangkitan Kristus. Telur melambangkan kehidupan baru yang dibawa Kristus setelah Ia menebus dosa manusia. Biarlah telur itu juga melambangkan iman kita yang semakin diperbaharui seiring dengan datangnya Paskah. Amin.... ^^
(btw, klo telurnya udah direbus lambang apa ya? hahahaha)
Picture was taken from: http://i.ehow.com/images/GlobalPhoto/Articles/12723/egghunt_Full.jpg




0 comments:
Post a Comment