Wednesday, January 7, 2009

From Heaven To Heaven and Then Back To Heaven Again

Lombok



Kata buku wisata berbahasa Inggris yang pernah g baca, "Semua yang ada dimiliki Bali, dimiliki juga oleh Lombok. Tetapi yang dimiliki Lombok, belum tentu ada di Bali". Benarkah demikian?

Liburan akhir tahun yang lalu, aku pergi ke lombok bersama 6 orang temanku. Awalnya, kita semua ada 9 orang, tetapi 2 orang temanku mengubah pikirannya karena mereka mempunyai rencana lain.
Kami pergi dari tanggal 26 sampai 30 Desember. Segala sesuatunya telah dipersiapkan dengan matang, karena rencana ini dimulai satu bulan sebelumnya. Intinya, kami telah siap ber-backpacker ria :)

Perjalanan dari Bali ke Lombok cukup melelahkan dan memakan banyak waktu. Dimulai dari Kuta, kami naik motor ke pelabuhan Padang Bai. Dari sana, kami naik ferry menuju pelabuhan Lembar, Lombok. Kami cukup beruntung karena tiba di Padang Bai sekitar pukul 8 pagi. Karena masih pagi, ferry tidak menunggu terlalu lama. Dari Bali ke Lombok dengan menggunakan ferry memakan waktu 4 jam. Harga ferry adalah 89rb (untuk satu motor, include 2 penumpang). Setelah sampai di pelabuhan Lombok, kami menaiki motor menuju Hotel Viktor di Mataram. Hotelnya murah dan cukup bersih, walau banyak semut kecil :) "What do you expect?" kata Loreng, salah seorang temanku. Ya eyalah, harganya aja semalem cuman 60rb :)
Nah berikut ini, saya akan jelaskan satu persatu perjalanan kami di Lombok. Intinya seru, dan menantang :)

1. Hari Pertama (26 Desember, Mataram)
Pada hari pertama ini, karena capek, kami hanya berjalan-jalan disekitar Mataram untuk mengenal lebih jauh kota ini. Mataram, kota terbesar di Lombok, ternyata tidak semeriah Kuta di Bali yang walaupun hanya desa, macetnya ampe ke Denpasar :) Penerangan jalan terbatas, mall juga kayanya cuman satu: Mataram Mall. Trotoar ga jelas, listrik sering mati, sepi dan susah makanan (ga tau tempanya kali ya :p). Akhirnya malam itu, kita makan di CFC Mall Mataram (masih ada juga nih saingan KFC :D g kira dah shutdown ampe ke akar-akarnya). Setelah makan, kami pulang istirahat. Pas malem-malem eh di "gerebek" polisi. Biasa, pemeriksaan Tahun Baru. Untung aja kita ada bawa kartu identitas dan kepala polisinya juga pernah tinggal di Bali. Ga pa pa deh, yang penting Lombok aman ya pak, kami maklum kok :) Lagian dapet info tentang kondisi Kuta yang akan kita lewati besok dari si Bapak Polisi. Awalnya kita dapet info itu pantai rawan dan lagi ada perang antar suku.
Welcome to Lombok



2. Hari Kedua (27 Desember, Kuta, Benang Storkel dan Benang Kelambu Waterfall)
Lombok punya juga pantai yang namanya Kuta. Letaknya berada di selatan pulau. Cukup jauh, kira-kira 2 jam naik motor dari Mataram. Yang unik dari pantai Kuta ini adalah pasirnya yang besar-besar seperti merica. Ada banyak selentingan bilang, jalan ke pantai Kuta cukup rawan dan sepi. Makanya, mereka menasihati untuk pergi dan kembali sebelum gelap.
Jalanan cukup sepi dan ga ada lampu jalan. Setelah survive selama 2 jam, sampai juga di Kuta. Pemandangannya buaguuuuuus banget. Beda dengan Kuta di Bali yang datar-datar aja, disini kamu bisa melihat pulau-pulau bertimbulan dari tengah laut :) Satu hal yang paling mengecewakan adalah para pedagang asongan yang kebanyakan anak-anak yang terus aja menawarkan barang dagangan mereka. Cukup mengganggu. Hal yang sangat disayangkan, karena hal ini akan membuat orang malas datang kesana. Karena bete ama tuh pedagang, ga lama di Kuta, kita pergi ke Tanjung An. Disini pemandangan lebih bagus, karena kita bisa melihat laut lepas dari atas bukit. Still, pedagang asongannya bikin bete :(
Dari Tanjung An, kita pergi ke Air Terjun Benang Storkel. Letaknya ada ditengah Lombok. Jadi cukup jauh dari Kuta. Sebelum tiba ke Air Terjun, rencananya kita mau mencari makan dulu di daerah yang jauh dari Kuta. O iya, kita makan di tempat yang cukup bersih, sayang nama restorannya lupa. Menunya cukup unik, yaitu sayur asem yang isinya cuman kacang panjang hahahaha...
Perjalanan ke Tanjung An cukup menantang, jalanan rusak dan masuk ke semacem hutan gitu deh. Kata orang-orang sana seh aman, tapi emang tempat wisatanya cukup beradab. Udah mulai diolah dengan baik. Ga ada asongan yang seperti di Kuta. Yang ada 2 anak kecil yang menuntun kita melihat air terjun Benang Kelambu yang lebih bagus lagi. Karena jalanan kesana cukup terjal, mereka membimbing kami. Akhirnya kami membayar mereka dengan rela karena mereka telah bekerja dengan baik :p
Berikut ini adalah hasil foto-fotonya :)
Kuta, Tanjung An, Benang Storkel dan Benang Kelambu



Kuliner malam dihari ke dua adalah Ayam Taliwang Irama. Tempatnya cukup unik dan rasanya lezat, tapi mahal. Yah bolehlah sekali-sekali nyoba :)

3. Hari Ketiga (28 Desember. Sindang Gile Waterfall, Bukit Malimbu, Pura Batu Bolong)
Hari ketiga makin seru aja :) Kini rutenya ke arah utara yaitu Sindang Gile Waterfall di kaki gunung Rinjani. Perjalanan melewati Senggigi. Naik turun bukit di daerah senggigi sangat menantang! Pemandangannya SUPERB!!!
Setelah kira-kira 2-3 jam menaiki motor, akhirnya kita sampai di kaki tempat wisata Air Terjun Sindang Gile. Tempat wisata ini lebih beradab lagi. Sudah ada rumah makan yang lumayan pemandangannya, walau makanannya biasa-biasa aja. Jalan menuju air terjunnya juga udah dipermak jadi ga melewati tanah becek lagi. Rupanya pembangunan daerah wisata di Lombok dimulai dari sebelah utara, beda banget ama Bali yang dimulai dari selatan. Sebenarnya selain Sindang Gile, ada satu air terjun lagi disana, katanya sich lebih bagus. Tapi untuk mencapai air terjun itu kita harus berjalan kurang lebih 1 jam. Karena hari sudah siang dan kita punya rencana melihat sunset di Senggigi, akhirnya kita memutuskan hanya melihat satu air terjun dan langsung menuju ke Bukit Malimbu.
Pemandangan di Bukit Malimbu daerah Senggigi sekali lagi emang SYUUPER. bukit itu kita bisa melihat ke 3 pulau Gili yang terkenal itu. Di bukit ini pula, g akhirnya melihat lagi seekor elang laut yang terbang bebas diangkasa. Seingat g, g melihatnya terakhir kali waktu SMP :) Elang laut itu pula yang membuat g menyesalkan kamera G7 g :( Momen yang indah ketika dia naik, ga bisa g tangkep huhuhuhu (padahal orangnya aja ga jago)....Oya ada lagi yang bikin nyesel, waktu itu, langit berawan. Rencana mau liat sunset di Bukit Malimbu pupus sudah. Akhirnya kita melanjutkan perjalanan ke Pura Batu Bolong. Satu-satunya pura Hindu yang g liat di Lombok. Terselip diantara bebatuan di Pulau Seribu Mesjid. Rencana pengganti untuk melihat sunset di Pura Batu Bolong pun pupus sudah ketika langit masi juga berawan. Tapi g berhasil menangkap gambar matahari walaupun tidak terlalu memuaskan.
Setelah dari Batu Bolong akhirnya kita berencana untuk makan di Cafe Menega. Cafe ini sich terkenal di Jimbaran Bali. Dan sepertinya kafe di Lombok ini cabang dari Bali. Ketika perjalanan menuju menega, g dan Sel melihat satu pemandangan yang SUPER DUPER SYUUUPERRRBBBB!!! The most beautiful sunset I've ever seen!!! Lembayung campuran warna ungu, jingga, biru dan kuning, siluet deretan pohon kelapa dipinggir pantai ga bisa dilukiskan dengan kata-kata indahnya. Dan penyesalan itu terjadi lagi...g benci kamera yang ga bisa menangkapnya ini (wkwkwk...bisanya nyalahin kamera, padahal dasar orangnya aja ga jago :p).
Sindang Gile - The target, Restaurant, Sindang Gile, Bukit Malimbu, See the Gilis?, Batu Bolong, I want to fly!!!



4. Hari Keempat (29 Desember, The Gilis)
Ini dia hari yang ditunggu-tunggu, saatnya meninggalkan Mataram dan "menyepi" di pulau tanpa polusi: Gili. Lombok punya banyak pulau yang namanya dimulai dengan Gili. Tapi yang terkenal dari semua gili ini ada tiga yaitu Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno. Yang paling ramai dari ketiganya adalah Gili Trawangan. Sebelum berangkat kita sudah mendengar banyak selentingan kalau pas New Year season, cari hotel bakal susah. Oleh sebab itu, kita tetep booking hotel di Mataram, kalau-kalau ga dapet hotel di Gili, kita bisa balik. Perjalanan ke Gili dimulai dengan melewati daerah Senggigi yang kemarin kita lewati dan menuju ke Bangsal. Dari Bangsal, kita bisa menitip kendaraan ke rumah penduduk dengan hanya Rp. 5000/malam. Dari Bangsal, kita naik perahu mesin yang diisi oleh kira-kira 25 orang. Seorang bayar sekitar Rp. 10.000. Kita cukup beruntung karena setelah naik, tak lama kemudian perahu berangkat.
Kira-kira setengah jam kemudian kita tiba di Gili Trawangan. Setelah didata identitasnya oleh petugas (alasan keamanan), tugas pertama kita adalah mencari hotel. 7 orang dibagi menjadi 3 team untuk mencari hotel. Setelah berjuang kira-kira 1 jam, akhirnya kita dapet "hotel" juga. Karena high season, harganya membengkak jadi total 800rb buat 2 kamar (1 kamar isi 5 orang, 1 kamar isi 2 orang). Ga bisa dibilang hotel, listrik sering mati, air mandi asin, tapi daripada ga ada penginapan dan pengen banget menikmati night life di Gili yang katanya rame, akhirnya ya "what do you expect" :)
Tinggal di Gili cukup menyenangkan. Ga ada polusi karena emang ga ada kendaraan bermotor. Yang ada hanya sepeda dan cidomo (dokar ber-roda ban mobil, tanpa mesin kecuali "mesin" alami si kuda yang polusinya juga "alami" bisa menyuburkan tanaman). Jadi setelah dapet "hotel", kita menyewa sepeda dan mencari makan. Setelah makan, kita ber-sepeda mengelilingi Gili Trawangan. Hanya butuh kira-kira 1,5 jam bersepeda untuk melihat semua pinggiran Gili Trawangan. Bagus, dan masih alami :) Berikut ini adalah gambar-gambarnya:
Pantai di Gili Trawanagan



Plan selanjutnya adalah snorkling. Kita menyewa alat snorkling lengkap dengan pelampungnya kira-kira 50rb kurang. Pemandangan bawah laut di Gili Trawangan cukup menarik. Yang paling bagus adalah penyu besar yang berjalan diantara karang mencari makan. Keren! Baru kali ini liat penyu dialam bebas :D
Kita selesai snorkling setelah sore. Dari sana balik ke hotel, mandi dan istirahat. Hal yang paling menyebalkan terjadi. Airnya mati huhuhuhu :( Tapi gpp, kan merasakan penderitaan orang-orang yang kekeringan :p Ketika hari mulai gelap, kita pun bersepeda mencari makan. Kehidupan malam cukup ramai juga di Gili Trawangan. Akhirnya kita makan di restoran yang pernah dicicipi Seksi Acara beberapa bulan sebelumnya :p Restorannya ternyata belon siap, kita disuruh nunggu ber-jam-jam cuman buat makan. Tapi yah...sekali lagi "what do you expect" klo kata si Loreng wkwkwkwkwk....

5. Hari Kelima (30 Desember, Back to Heaven)
See u again, bok...



Semalam di Gili akhirnya terlewati, kita pun pulang balik ke Mataram jam 8 pagi. Kita tiba di Mataram kira-kira pukul 11 siang. Setelah beres-beres, kita pun siap-siap checkout untuk balik ke Bali. Singkat cerita, kita tiba di Bali kira-kira pukul 8 malam setelah terapung-apung selama 4 jam. Perjalanan balik ke kos, menantang juga. Diguyur hujan lebat, akhirnya kami tiba di kos kami yang tampak steril dibanding "hotel" Gili pada pukul 9 malam. Anehnya jalanan yang gelap di Bali tak membuatku takut.

Yup, orang boleh bilang "yang ada di Bali, semua ada di Lombok, tapi yang ada di Lombok, belum tentu ada di Bali", tapi menurutku ada satu hal yang membuat Bali unik. Keamanan dan keramahan orang-orangnya, itu belum bisa ditemui di Lombok. Itu pula yang membuatku betah tinggal di Bali. Semoga suatu hari nanti Lombok bisa menyamai Bali dalam hal ini: menjadi "The Premier League of Tourist Destination"

2 comments:

cellsroom said...

Kok warna langitnya g kurang biru en kuning ya :D Masih keinget2 euy sunsetnya. Ayo cari tempat lain yg bisa saingan ma sunset Senggigi..

Carnel said...

@cell: oh itu kan dilebih-lebihkan sel biar yang baca ngiri :p
so, next : raja ampat :))

What's New?

There's something new in my blog. Do you realize it?
No? Well, see at your browser's url box. It's now written http://blog.carneles.com ^^
You can also see http://www.carneles.com, but it still under construction.